Movie's Review(In English and Bahasa Indonesia) - Upcoming Movie's Preview - Movie's Star - Movie's Wallpaper, Poster & Images - Sneak Peak - News & Gossip - Games - Music - Entertainment
Bukaan 8, Produksi Visinema Pictures akan tayang di bioskop kesayangan Anda, mulai 23 Februari mendatang. Untuk pertama kalinya Angga Dwimas Sasongko menggarap genre komedi yang akan dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Lala Karmela.
Diproduseri oleh Anggia Kharisma dan Chicco serta menunjuk Salman Aristo sebagai penulis skenario. Beberapa pemain lain yang terlibat seperti Tyo Pakusadewo, Sarah Sechan, Dayu Wijanto, Uli Herdiansyah, Ary Kirana, Melissa Karim, Maruli Tampubolon, TJ, Ivy Batuta, Ary Kirana, Deddy Mahendra Desta, Marwoto, Roy Marten, Nadine Alexandra dan Adriano Qalbi.
Film ini terinspirasi oleh pengalaman pribadi sang produser, Anggia Kharisma, saat akan melakukan proses persalinan. Namun, ia mengatakan bahwa siapa saja pasti pernah mengalami hal ini.
Bercerita tentang pasangan suami isteri, Alam (Chicco) dan Mia (Lala), yang sedang menghadapi kelahiran anak pertama mereka. Selama ini Alam dianggap sebagai laki-laki yang tidak bisa diandalkan oleh keluarga besar Mia. Oleh karena itu, dia berusaha membuktikan diri sebagai suami impian pada kelahiran anak pertamanya.
Apakah upaya Alam akan membuatnya diakui sebagai suami yang siaga atau justru membuatnya berpisah dengan Mia? Intip trailer nya yuk!
Tahun 2016 silam bisa dibilang sangat memanjakan para penggemar film horor. Begitu banyak cerita yang disuguhkan, dari atologi, otopsi mayat, zombie, penyihir jahat, penyerbuan rumah, hantu biarawati, pembunuh berantai, sampai hiu yang ganas. Berikut 15 film horor yang bisa menguji adrenalin mu. Mungkin ada yang belum kamu nonton?
15. Southbound | Radio Silence, Roxanne Benjamin, David Bruckner & Patrick Horvath
Film antologi horor V/H/S bekerja efektif sebagai film yang memberikan teror dan rasa takut bagi penonton. Southbound datang dengan pakem banyak cerita yang sama namun dengan perlakuan yang sedikit berbeda. Cerita misterinya begitu kuat menyedotmu dalam pusaran pekat tentang usaha manusia dengan rasa bersalah dan usaha penebusan dosanya.
14. The Conjuring 2 | James Wan
The Conjuring 2 merupakan sekuel yang berhasil menghadirkan sebuah film horor yang tak hanya sekadar menakut-nakuti, tetapi juga bercerita. Ada kengerian yang memberi efek maksimal, tetapi juga ada keheranan dan kehangatan, dan diterjemahkan dengan baik dan rapi dalam adegan-adegannya. James Wan lagi-lagi melakukan pekerjaannya dengan sangat baik ketika memodifikasi premis generiknya menjadi sajian audio visual yang penuh ancaman.
13. The Invitation | Karyn Kusama
The Invitation sukses mengajakmu untuk mendatangi pesta paling creepy yang pernah ada - creepy karena semuanya terasa normal tapi juga sekaligus terasa tidak wajar dan nggak beres. Siapa sangka acara reuni sekaligus makan malam hangat di kawasan Hollywood Hills berubah menjadi mimpi buruk ketika tua rumah punya agenda misterius yang dipersiapkan buat tamu-tamunya. Ada teror psikologis yang dimainkan dengan cerdas oleh sutradara Karyn Kusama dalam usahanya menghadirkan paranoia dalam situasi serba tidak nyaman sekaligus sindiran tentang gaya modern. Sisi sinematografi dan scoring mendukung kesan ketidaknyamanan yang diperlukan. Film ini menyelipkan sedikit pesan moral mengenai bagaimana menghadapi kehilangan seseorang yang kita cintai.
12. Lights Out | David F. Sandberg
David F. Sandberg bisa dibilang sukses melebarkan premis simpel namun berkesan dari horor pendeknya yang tidak sampai 3 menit itu menjadi gelaran penuh teror dan kegelisahan akan gelap di sepanjang 81 menit durasinya. Jika Hiu mampu membuatmu takut berenang di laut maka Lights Out akan memaksamu tidur dengan lampu menyala. Film ini menyuguhkan jump-scares yang efektif. Sangat sangat efektif.
11. I Am Hero | Shinsuke Sato
Adaptasi manga berjudul sama milik Kengo Hanazawa ini menggambarkan suasana horor dengan format aktual. Dengan jalan cerita from zero to hero dan komedi hitam kuat yang mampu menjadi daya tarik utama selain teror para zombie. Seperti Dawn of The Dead versi Jepang dengan segala kebrutalan dan keunikan yang siap membuatmu tertawa sama keras sembari sembari menjerit ketakutan.
10. Green Room | Jeremy Saulnier
Karya Jeremy Saulnier “Green Room” cukup menjanjikan dalam menghadirkan adegan gore. Darah berceceran hingga daging terkoyak. Masuk ke dalam kategori horor dengan cerita tentang pengepungan yang dilakukan para skinhead kejam pimpinan Patrick Steward kepada sebuah grup band punk yang dikomandani oleh Anton Yelchin punya segala elemen ketegangan dan kengerian hebat yang dibutuhkan untuk membuatmu duduk terpaku. Ada kebrutalan yang digarap bersama kejutan-kejutan tak terduga. Sebagai sebuah film thriller yang ringan, Green Room sendiri sangat solid dari awal hingga akhir, mampu bermain maksimal dalam level ketegangan, dan eksekusi adegan berdarahnya yang brilian sekaligus efektif.
9. 10 Cloverfield Lane | Dan Trachtenberg
10 Cloverfield Lane mungkin hanya sekedar menjadi penumpang kecil di dunia Cloverfield. Berbeda dengan "saudaranya", Cloverfield (2008) namun rohnya hampir sama. Menyimpan kejutan klimaks di bagian akhirnya, namun momen terbaik ada pada momen suspensenya di tiga perempat bagian awalnya.Tampil dengan begitu efektif sebagai sebuah thriller ruang sempit yang mencekam dan pintar. Dengan dukungan naskah solid dan penampilan memukau dari para pemainnya merupakan sebuah perpaduan yang sempurna dan menarik antara misteri, suspense, dan sedikit horor.
8. The Shallows | Jaume Collet-Serra
The Shallows adalah salah satu film survival di tengah laut yang paling menarik. Membawa genre shark attack kembali ke penampilan terbaiknya pasca The Jaws yang legendaris itu. Ya, ada horor yang bersembunyi di sebuah ‘surga’ rahasia yang juga menjadi saksi perjuangan bertahan hidup mahasiswi kedokteran seksi yang terjebak seorang diri di tengah karang setelah hiu putih besar menyerangnya ketika tengah berselancar. Durasi yang singkat yaitu hanya dengan waktu 87 menit, namun ending yang ditampilkan benar-benar memberi kepuasan bahkan lebih dari ekspetasi para penonton. Film ini cukup sukses membuat jantung penonton berdebar-debar dan menghela nafas panjang di setiap menit adegan yang ditampilkan.
7. Under The Shadow | Babak Anvari
Film ini mempunyai latar belakang sosial dan politis yang begitu kuat hingga konteksnya meresap ke dalam cerita, terlepas dari kengerian setannya. Atmosfernya yang tak nyaman memberikan intensitas tersendiri, membuat para karakternya (dan kita, penonton) tegang sepanjang waktu. Teror dari dunia gaib tak lebih berbahaya daripada di dunia nyata. Siapa yang menyangka sekelebatan adegan selendang terbang bisa membuatmu bergidik hebat.
6. Train to Busan | Yeon Sang-ho
Train to Busan sebagai tontonan zombie apocalypse terbaik yang pernah dibuat perfilman Korea Selatan atau mungkin perfilman dunia. Tidak hanya memberikan pertunjukan teror yang penuh kengerian, kejutan dan ketegangan bersama mayat-mayat rakus, namun di saat bersamaan ia juga menghajar telak emosimu dengan melodrama kemanusiaannya yang menghenyak. Meskipun elemen zombie-nya familiar, plotnya cerdas, membalikkan ekspektasi kita dengan poin-poin tak terduga, meski penonton yang berpengalaman boleh jadi sudah bisa menebak tokoh yang akan mati. Lumayan jarang film horor mainstream yang masih bisa mengejutkan kita melalui perkembangan plot alih-alih twist.
Dengan genre thriller yang dibalut spiritual, membuat The Autopsy of Jane Doe terlihat menarik kemasannya. Diluar secara teknis sebagai seorang tukang autopsi mayat, Emile Hirsch dan Brian Cox mampu menjaga intensitas thriller di film ini. Bersiaplah memasuki ruang autopsi dengan kejadian-kejadian aneh di dalamnya. Kamar mayat, jenazah korban pembunuhan yang aneh, proses pembedahan yang menjijikkan dan kejadian supranatural menakutkan adalah hal-hal yang akan kamu temui di sini.
4. The Eyes of My Mother | Nicolas Pesce
Dijuluki film horor yang sakit jiwa, sang sutradara The Eyes of My Mother, Nicolas Pesce bisa menterjemahkan trauma, duka dan kesepian ke dalam bahasa visual yang meski tampak disturbing parah, tapi harus diakui terbungkus cukup indah. Pemilihan warna monokromnya mungkin tidak populer dan menjurus artsy, tetapi percayalah ada begitu banyak kengerian yang ditawarkan meski tanpa warna merah darah. Ini sebenarnya adalah sebuah drama keluarga disfungsional lewat adegan-adegan sadis yang dipertontonkan, yang menjadi pengalaman tidak mengenakan sehingga membekas di ingatan. Walau tersembunyi di balik sinematografi indah sekalipun, nyeri tak bisa tertutupi dan rasa ngilu tetap akan terasa kala melihat Francisca beraksi.
3. Don’t Breathe | Fede Alvarez
Don't Breathe adalah film berdurasi relatif pendek namun mampu menciptakan suasana horror yang menegangkan. Film ini akan mengajakmu ke sebuah pengalaman menonton horor home invasion yang membuatmu susah bernafas. Tidak hanya memiliki jalan cerita yang bagus tentang permainan kucing dan tikus antara The Blind Man dengan si perampok rumah, namun juga turut didukung dengan eksekusi yang sama hebat dan efisiennya yang siap membuatmu ketakutan sendiri tanpa benar-benar tahu apa yang akan terjadi kemudian. Pokoknya film ini ngagetin dan bikin gemes!
2. The Wailing | Na Hong-jin
Bercerita tentang sosok iblis yang bersemayam di sebuah desa terpencil, hanya saja horor garapan Na Hong-jin memilih untuk berada dalam dunia lebih modern dengan cerita yang dimulai dengan kasus pembunuhan, penyelidikan, wabah misterius yang nantinya berujung dengan kengerian demi kengerian dan ending yang akan terus mengusik dalam ingatanmu. Film ini lebih memberikan rasa disturbing. Penyelesaiannya sungguh di luar akal sehat, namun satu hal yang pasti adalah kita bisa merasakan penderitaan dan keputusasaan yang coba diangkat filmnya.
1. The Witch | Robert Eggers
Dongeng gelap tentang penyihir wanita jahat dari perkampungan puritan di New England di abad ke-17 menjadi film paling menghantui di sepanjang 2016 lalu. Cerita tentang keluarga Kristen fanatik yang keimanan mereka goyah diganggu oleh iblis dari hutan gelap ini punya nada yang suram dan depresif. Di balik tema penyihir dan supernatural-nya, Robert Eggers sengaja memasukkan konflik disfungsi keluarga di sini. Bisa dirasakan, kekacauan keluarga ini berasal dari rasa ketidakpercayaan satu sama lainnya yang menjadi titik awal kehancuran. Susah untuk bisa duduk nyaman di saat sang penyihir mulai bergentayangan, menculik bayi, mengubah bentuk dan perlahan menghancurkan keluarga kecil itu tanpa ampun.
Bagaimana pendapatmu tentang trio robot raksasa ini? Dengan desain yang ramping dan lebih mutakhir, Para Jaeger pembasmi Kaiju akan kembali beraksi di sekuelnya yang bertajuk Pacific Rim:Uprising. Poster ini sendiri menampilkan tiga Jaeger yang disinyalir menjadi Jaeger utama di Uprising, Sementara dua Jaeger yang berwarna merah dan silver masih misterius. Jaeger biru diduga adalah Gipsy Danger yang sempat muncul di film terdahulu. Jika anggapan tersebut berakhir benar, maka ini akan mengkonfirmasi rumor bahwa Gipsy Danger mendapat upgrade di Uprising.
Perubahan desain Jaeger tentu tak lepas dari setting Uprising yang terjadi beberapa tahun pasca invasi Kaiju di Pacific Rim. Dalam film garapan sutradara Steven DeKnight ini, pemerintah dari berbagai negara tak hanya memanfaatkan Jaeger untuk menghentikan Kaiju, tapi juga untuk bertarung melawan sesama Jaeger. Adanya Kaiju yang hidup kembali, Pan Pacific Defense Corps terpaksa harus mengumpulkan pilot Jaeger baru – termasuk Nate Lamber dan Jake Pentecost – guna memberi angin segar terhadap program Jaeger sehingga robot ini bisa efektif ketika digunakan untuk mematikan Kaiju.
Untuk pilot, John Boyega telah dikonfirmasi akan menjadi Jake Pentecost, putra dari Stacker Pentecost. Selain itu, Scott Eastwood juga dikonfirmasi akan ikut menjadi pilot Jaeger generasi baru. Dari generasi lama, Mako Mori yang diperankan oleh Rinko Kikuchi juga sudah dikabarkan akan kembali. Tinggal tunggu saja untuk mengetahui para pilot ini akan mengendarai Jaeger yang mana. Selain Boyega dan Eastwood, film ini juga dibintangi Cailee Spaeny dan Jing Tian (Kong: Skull Island). Rencananya Pacific Rim: Uprising akan dirilis 23 Februari 2018.
Film live-action "Beauty and The Beast" berkisah tentang petualangan mengagumkan seorang wanita muda yang pintar, cantik dan independen bernama Belle (Emma Watson) yang tersesat dan tanpa sengaja ia menemukan sebuah kerajaan tua. Pada saat ia memasuki kerajaan itu, dia bertemu dengan sesosok makhluk dengan rupa yang mengerikan yang disebut Beast (Dan Stevens). Kemudian Belle dijadikan tawanan di kastilnya.
Meski ketakutan, Belle mencoba berteman dengan staf kastil yang ramah. Tak lama Belle mulai memahami sifat tertutup Beast dan mengetahui bahwa ada hati dan jiwa Pangeran sejati dalam dirinya. Sebenarnya makhluk itu adalah sesosok pangeran tampan yang terkena kutukan akibat kesombongannya. Akibat kutukan itu, ia berubah menjadi makhluk yang menakutkan. Dalam perjalanan waktu akhirnya Belle jatuh cinta dengan makhluk itu. Akankah cinta Belle mampu menghilangkan kutukan dan mengembalikan rupa sebenarnya dari sang pangeran?
Film yang akan dirilis pada tanggal 17 Maret 2017 ini di bintangi oleh Emma Watson (Belle), Dan Stevens (Beast), Luke Evans (Gaston), Ian McKellen (Cogsworth), Ewan McGregor (Lumiere) dan Emma Thompson (Mrs. Potts). Adapun sederet pemain pendukung lain, yakni Josh Gad, Stanley Tucci, Gugu Mbatha-Raw, Kevin Kline dan Audra McDonald.
Di balik layar, Bill Condon (Twilight Saga: Breaking Dawn) dipercayakan menjadi sutradaranya, dengan acuan naskah yang ditulis Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower). Film yang merupakan hasil adaptasi dari cerita klasik ini di anggap berhasil menghidupkan kembali “keajaiban” dari animasinya, mulai dari desain produksi dan scoring yang megah, hingga kisah cinta tak terduga antara Belle dan Beast.
Film yang diramaikan dengan aksi dan dialog kocak ini berhasil meraup 800 juta dolar AS atau setara dengan 10,7 triliun rupiah. Dalam waktu dua pekan pemutaran film, Deadpool langsung melejit dan berhasil menuai sukses.
Deadpool hanya mengeluarkan dana produksi sekitar 58 juta dolar AS saja atau 777 miliar rupiah. Dengan keuntungan tersebut sekiranya rumah produksi 20th Century Fox bisa duduk tenang dan tersenyum bahagia.
Karena laris dan mendapatkan keuntungan besar, film ini diberi label R (Restricted). Fox merencanakan akan membagi-bagikan bonus kepada para aktor sampai kepada orang belakang layar, maupun penulis skenario nya.
Ryan Reynolds, aktor sekaligus produser, awal nyahanya mendapatkan pembayaran di muka sekitar dua juta dolar AS atau setara dengan 26,8 miliar rupiah. Akan tetapi, dengan keuntungan yang fantastis ini, sepertinya dia bisa mengantongi lebih dari 10 juta dolar AS atau 134 miliar rupiah.
Karir Reynoldshampir redup usai film laga dan pahlawan super yang dibintanginya, Green Lantern (2011) dan R.I.P.D. (2013) tak laku di pasaran. Tetapi karena Deadpool, dia kembali bersinar dan mendapatkan bayaran yang tinggi.
Dia mendalami karakter dalam waktu 11 tahun. Terus berjuang dan berusaha menikmati dan memerankan karakter Wade Wilson yang terkena kanker dan harus mendapatkan serum mutan dan menjadi tokoh bad-ass ini.
Dengan kesuksesan Deadpool, Reynolds berencana akan mempersiapkan sekuel. Sekuelnya pun sudah mendapat lampu hijau untuk diproduksi.
Rhett Reese dan Paul Wernick adalah dua kandidat yang nantinya akan menulis skenario untuk sekuel film Deadpool. Namun masih belum diketahui apakah Tim Miller selaku sutradara film pertamanya ini akan kembali terlibat untuk menyutradarai sekuel Deadpool atau tidak.
Simon Kinberg dan sang sutradara Tim Miller sebelumnya memang pernah membicarakan hal terkait proyek sekuel untuk Deadpool. Mereka menjamin bahwa sekuel film ini tidak akan terbengkalai seperti film pertama yang sempat mengendap selama 11 tahun.