This latest Shaolin's film has gained much spotlight. The reason behind the spotlight is since the last few years, the Shaolin Temple no longer allow quoting or making a movie about Shaolin, unless the movie maker has been granted with a special permission. Benny Chan's film is one of the special permission, and it's even more special since big stars like Andy Lau, Nicholas Tse, Wu Jing, Fan Bingbing and Jackie Chan have decided to join this film.
Andy Lau returned to play and show his ability in kung fu. While Jackie Chan only appeared as supporting role, played as a cook who was a master of Shaolin Kung fu, but hide his expertise. This film time settings was when China under the power of warlord. Hao Jie, a success on the battlefield, challenge and defeat a Shaolin Master. But when his family wiped out by another Warlord, Hao Jie turned to Shaolin, and with the Shaolin trying to survive the cruelty of the new Warlord.
Hao Jie, as the main character played by Andy Lau, Jackie Chan as one of the Shaolin masters but in disguise, he served as a chef in the Shaolin tample. While Nicolas Tse gets the role as Warlord who slew Jie Hao's family. Choreography was under Cory Yuen, famous choreographer of Transporter, The One, and most of Jet Li's films. This film was directed by Benny Chan (Rob-b-hood, New Police Story). The release date is not available till this day.
Join Us on Facebook
Rabu, 24 Maret 2010
Benny Chan's Shaolin
Posted by |toekang.blog| 0 comments
Senin, 15 Februari 2010
Studio Ghibli 2010 Anime Movie: Karigurashi No Arrietty (The Borrowers)
Studio Ghibli is famous for its beautiful animation movie such as Spirited Away which has been awarded with many awards; in this 2010 this studio will release a new movie with title "Karigurashi No Arrietty" (The Borrowers). Unlike other Ghibli movies that most of the time was directed by Hayao Miyazaki. This latest project was entrusted to Hiromasa Yonebayashi as the movie directed.
Hiromasa Yonebayashi is not a total stranger when it comes to Studio Ghibli, he has long known as one of the best animators, working for animation movie Princess Mononoke, Howl's Moving Castle and Spirited Away. At the age of 36 years, Yonebayashi become the youngest person to be director for Studio Ghibli. Yonebayashi film debut was an adaptation of the famous British novel "The Borrowers" by Mary Norton. Hayao Miyazaki (Spirited Away) and Isao Takahata (Grave of the Fireflies) had long thought to develop this novel into an animated movie; it was since 40 years ago.
Director Peter Hewitt had already adapted the same novel into movie with the title "The Borrowers" which was produced in 1997 featuring John Goodman. "Karigurashi No Arrietty" tells about a "borrowers" family who live peacefully in a house made of items borrowed from the human. Their lives began to change when Arrietty, 14-year-old, was found by humans. This movie is scheduled to hit big screen on 2010-07-17 (Japan) while for the rest of the world, there is still no information available so far.
Teaser Trailer
Sabtu, 17 Oktober 2009
The Warrior and the Wolf
The upcoming period epic “The Warrior and the Wolf” directed by veteran Chinese Zhuangzhuang Tian what we can tell from its trailer is about some Chinese soldier types wandering into the desert and getting their fill of some supernatural happenings. This movie also stars sexy Maggie Q, she shows up to seduce the hero and have passionate sex by a campfire. In the trailer we show wolves show up in packs. This movie is due out in Asia late October 2009.
While the whole story was set in the Era of the Warring States, before the unification of China, those were time where thousands of soldiers are dispatched to fight the enemy and conquer nomadic tribes. Sent to isolated regions at the edges of the known world, the soldiers encounter many difficulties, and the vicious challenge of survival often carries out the most horrible human natures. Except that valiant Lu Chenkang (play by Joe Odagiri) belongs to a different type. This man is brave, loyal and extremely skilled in the art of war. On the other hand, he is kind-hearted and reluctant to assassinate. Although he has a pet wolf cub, he maintains his own animal instincts at bay.
At the time his commander and friend, General Zhang Anliang (Tou Chung-hua), is badly injured just before the early winter, Lu let himself to command of the troops. Forced to locate shelter in the village of the strange Harran tribe, he realizes a beautiful young woman (Maggie Q) hiding in his shelter. A widow shunned into loneliness, she has a fierce personality and fights Lu in every way she can before surrendering to his passionate embrace, having fallen for him against her better judgment. She appears to have the weird capability to take his mind to a place where memories run over with dreams and legends and that was a place where humans were once wolves.
Here is the trailer of this war movie
Minggu, 18 Januari 2009
Red Cliff 2 (2009)
It's been a six month wait for the second and final half to John Woo's magnum opus Red Cliff, and for those familiar with the classic but have not watched the first installment, the director doesn't waste time in bringing you up to speed with an excellent summary, so much so that the transitional technique used was carried over to the main movie proper.
And for those who complained about the pigeon soaring over the sky overseeing a football game at the Cao Cao (Zhang Fengyi) camp, there're perfect explanations for those too.
The story of RED CLIFF takes place in 208 AD in China during the Han Dynasty. Despite the presence of an emperor, Han Xiandi, China was then divided into many warring states.
Genre: War/Action/Drama
Director: John Woo
Cast: Tony Leung Chiu-Wai, Takeshi Kaneshiro, Hu Jun, Chang Chen, Zhao Wei, Zhang Fengyi, Lin Chiling, Shidou Nakamura
RunTime: 2 hrs 20 mins
Opening Day: 9 January 2009
Trailer
Senin, 23 Juni 2008
FIKSI (2008)
Sinopsis:
Alisha (Ladya Cheryl) tidak pernah merasa hidup di rumahnya yang besar dan dingin, sampai suatu hari ia mendengar siulan Bari (Donny Alamsyah) yang memperkenalkannya dengan cinta. Cinta Alisha pun membawanya sampai ke sebuah kamar rumah susun persis di sebelah tempat Bari tinggal bersama kekasihnya, Renta (Kinaryosih). Hari-harinya yang dulu membosankan kini dipenuhi dengan suara canda, cinta dan pertengkaran yang terdengar dari kamar sebelah. Segala cara dilakukannya untuk mendekati Bari ; menipu, menjebak sampai membunuh. Ini adalah sisi gelap sebuah cinta, sebuah obsesi, sebuah mimpi.
Review by Arddhe on Exodiac :
Film yang berusaha tampil beda.
Ditengah gempuran film indonesia bergenre horor, drama dan yang terbaru, komedi cabul...film ini keluar dengan genre yang mungkin boleh dibilang baru di dunia film indonesia, yakni thriller suspense. Cerita tentang seorang wanita muda psikopat yang selalu dikekang dirumahnya, dia cinta mati ama seorang penulis muda, dan memutuskan untuk kabur dari rumah dan tinggal di kamar samping cowok itu, disana dia memutuskan untuk "membantu" si cowo untuk menyelesaikan cerpen yang lagi dikerjakan oleh cowok itu....dan klimaksnya, ia ingin menyelesaikan "cerita" cowo itu.
dan memang, film ini berhasil tampil beda dalam tema. tapi dalam kualitas, masih khas indonesia, nanggung...tidak total, dalam segala hal...
naskah...ntah kenapa, ga hanya di film ini, tapi di film2 indonesia yang lain...aq masih kurang sreg ama naskah yang disajikan, kata2nya kadang terlalu resmi...kadang malah sok gaul..ga konsisten, difilm ini cowonya kadang bilang saya...kadang gue. Dialognya sering berisi kata2 seperti puisi, tapi jujur aq malah merasa geli...aneh dan sok keren dan sungguh basi.
cerita, ntah kenapa sangat gampang untuk ditebak alurnya, ga ada twist sama sekali, mungkin ada, tapi terlalu mudah untuk ditebak. Apalagi endingnya, sangat bisa ditebak, jadinya suspensya sendiri kurang bermutu jadinya.
sinematographi, pernah baca di forum apa aku lupa, katanya gambar film ini bakal sedikit suram dan keren seperti halnya the photograph, tapi yang kuliat ah ini mah masih dibawah the photograph.
dan akting ladya cheryl sebagai seorang wanita psikopat boleh dibilang biasa aja, modalnya hanyalah sering diem dan menatap tajam ke lawan bicaranya, kayaknya semua aktris bisa aja kyk gitu deh. anjrit aq kok banyak banget ngritiknya maap deh lagi kesel lum makan soalnya haha dan ini kok ga pake titik koma sih?
Posted by |toekang.blog| 0 comments
Rabu, 14 Mei 2008
Mereka Bilang, Saya Monyet!
By: PelagieFilm ini dibuat berdasarkan dua cerpen karya Djenar Maesa Ayu ("Lintah" dan "Melukis Jendela"), yang masuk nominasi 10 besar buku sastra terbaik khatulistiwa Literary Award 2003.
Masa lalu yang kelam adalah sebuah momok yang mendikte arah mana depan kita. Hal ini terlihat sangat nyata pada diri Adjeng (Titi Sjuman), seorang penulis muda yang masih terkurung oleh bayang-bayang masa lalunya. Penjara inilah yang membentuk karakter Adjeng yang mendua. Di satu sisi, ia bersikap sangat agresif dan permisif ketika bersama teman-temannya dan kekasihnya, Asmoro (Ray Sahetapy), namun disisi lain, ia terlihat begitu pasif di depan ibunya (Henidar Amroe). Keinginan untuk lepas dari semua tekanan inilah yang mendorong Adjeng untuk mengekspresikannya ke dalam karya tulis.
Temen gw, jg udah nonton film ini. Pas gw tanyain, dia bilang: ga mutu! Hahaha.. Maklumlah, doi kurang bisa matching sm film2 festival kaya begini. Hehehe.. pis jo... Nah, klo kesan dan pesan gw? Hmmm... lumayan.. Karna gw dah bener2 terbiasa sm novel2nya Djenar, jadi gw ga kaget lagi nonton filmnya. Gayanya Djenar yg terbuka dan blak2an udah biasa bwt gw. In fact, dulu gw sempet koleksi buku2nya dia. Skrg mah, ntuh buku2 dah jatuh ke tangan org laen! Hehehe.. Gw harus mengancungkan jempol utk Djenar, karna udah berani memfilmkan cerita dari bukunya dia.. dan gw yakin ada banyak komen2 positif dan negatif dr masyarakat. Well.. Indonesa gitu loh... blm bisa nerima jenis2 film yg kaya begini.. Akting para pemain2nya juga patut dipuji. Utk film low budget seperti ini, mereka bisa berakting dengan serius tanpa melebih2kan. Peran si Mommy sgt cocok dimainkan oleh Henidar Amroe. Watak dan face-nya pas beneeerrr! Gw cuma agak ga rela aja pas liat Mario Lawalata juga ikut maen disini.. hahaha! ;P Berita yg terakhir gw dengar adalah film ini berhasil menuai banyak pujian dan prestasi di dunia perfilman. Well, terbayar sudah jerih payahmu, Djenar! Keep up the good work, and I shall waiting for your next brilliant movie! ;)
Posted by |toekang.blog| 1 comments
Selasa, 06 Mei 2008
The Forbidden Kingdom (2008)
Synopsis :
In Forbidden Kingdom, American teenager Jason (Michael Angarano), who is obsessed with Hong Kong cinema and kungfu classics, finds an antique Chinese staff in a pawn shop: the legendary stick weapon of the Chinese sage and warrior, the Monkey King (Jet Li). With the lost relic in hand, Jason unexpectedly finds himself transported back to ancient China.
There, he meets the drunken kungfu master, Lu Yan (Jackie Chan); an enigmatic and skillful Silent Monk (Jet Li); and a vengeance-bent kungfu beauty, Golden Sparrow (Crystal Liu Yi Fei), who lead him on his quest to return the staff to its rightful owner, the Monkey King - imprisoned in stone by the evil Jade Warlord (Collin Chou) for five hundred years. Along the way, while attempting to outmaneuver scores of Jade Warriors, Cult Killers and the deadly White Hair Demoness, Ni Chang (Li Bing Bing), Jason learns about honor, loyalty and friendship, and the true meaning of kungfu, and thus frees himself.
Mark Ramsey from Moviejuice.com :
Forbidden Kingdom is loads of fun!
A kung-fu-obsessed teen browses a Chinatown pawnshop where a magical staff awaits its rightful owner.
"Do you want this magical staff?" asks the elderly Chinese proprietor, whose demeanor and caked-on makeup suggests a much younger actor who has never actually seen an old man unless he's in a movie played by a much younger actor.
"I'm a teenager," says the boy. "My staff is already magical. It just wishes it could conjure beyond that corner of my imagination where the cast of Gossip Girl lives."
Michael Angarano, who's usually cast as "young" versions of bigger stars with more screen time, is the teen who falls off a roof and, thanks to that magical staff, drifts through a dimensional portal into ancient China, suffering no ill effects in transit, except for noticeably puffed-out hair.
"The winds of space and time are nature's blowdryer," Angarano explains.
He looks around and is lost amidst fields of rice and a chest of hair.
Well, one hair anyway. But fields of rice!
This is the ancient China of warlords and swordsmen wearing vast quantities of sparkly eye shadow. "I will fight you to the death!" says the Jade Warlord, "but first...Aesthetician, where's my Ming Maybelline?! Cook, where's my hasenpfeffer?!"
"Blue eyeshadow went out in the 1280's!" Jet Li shouts at the Jade Warlord, and there's no kung-fu move stronger than hurling a catty cosmetics critique.
Enter Jackie Chan, a nutritious part of any kung-fu breakfast. He's a "traveling scholar," a.k.a. "homeless drunk." But a homeless drunk with mad combat skills! And he's not only drunk, he's immortal. Or maybe, like all drunks, he just thinks so. Read More...
Review by Funky Love :
Aku suka banget nonton film ini. Meskipun aku agak telat dateng ke studio, tapi ternyata filmnya belum mulai. Thank’s God! Yah, tak mengapalah kalo aku dapet kursi yang mepet tembok, yang penting bisa nonton ajah.
Openingnya begitu apik, kreatif dan menarik. Film yang digawangi ama Jackie Chan, Jet Li, si imut Liu Yiffei, dan pastinya si ganteng Michael Angarano ini bergenre action. Tapi bukan Jackie Chan namanya kalo ga ada unsur komedinya. Jadi dari awal film ini sampai di endingpun kita disuguhi lelucon-lelucon yang ga segan-segan bikin kita ngakak. Ciamik juga nih sutradaranya, Rob Minkoff, memadukan Jet Li dan Jackie Chan di satu film laga kaya gini. Tapi sayangnya, akting Jet Li kurang memukau. Bukan kungfunya, tapi karakter yang dibawain ama Jet Li ini menurutku kurang pas. Jet Li yang selama ini kita liat sebagai sosok yang kuat, gagah, berwibawa dan garang ini tiba-tiba meranin sosok kera sakti alias Sun Go Kong yang culun dan kiddo gitu. Atau, justru itu yang menarik?
Yang jelas, banyak kejutan-kejutan tak terduga di film ini. Apa, dan siapa yang ada di film ini semuanya patut disimak sebagai obat penawar stress dari kegiatan kantor, sekolah dan bahkan mengendurkan otot-otot ketegangan menjelang UAN. :hehe:
Tenang aja, ga perlu berpikir keras untuk mencerna film ini, karena memang alurnya sederhana, ga rumit, tapi patut diacungi jempol.

Selasa, 18 Desember 2007
MIRACLE (2007)
Sinopsis:
Siswa-siswi kelas 3 suatu SMU akan berdarmawisata. Beberapa menit sebelum berangkat, Kinar (Keira Shabira), siswi kelas 3 Sosial 1, mendapat penglihatan kalau bis kelas mereka akan kecelakaan dan terbakar. Kinar berusaha memperingatkan teman-teman dan guru tapi tidak digubris.
Kinar malah diseret turun oleh ketua angkatan, Satyo (Lian Firman) dan wali kelas, Pak Irawan (Robertino). Kaka (Andry Ilham), sahabat Satyo ikutan turun, tapi ia melarang Elisa (Audrey) pacarnya untuk turun. Selain itu masih ada Ago (Dhitra Marfie), Tania (Lady Veronica), Mey (Nadilla Ernesta) dan Aldi (Wishnu Wijaya) yang akhirnya turun karena suatu alasan. Bis kelas itu berangkat duluan, sedangkan mereka yang turun, rencananya dinaikkan ke bis untuk guru. Bis kelas 3 Sosial 1 itu ternyata mengalami kecelakaan seperti penglihatan Kinar.
Semuanya mati...Delapan orang yang turun selamat; Satyo, Pak Irawan, Kaka, Ago, Tania, Mey, Aldi dan Kinar sendiri... Tapi ternyata kematian tidak berhenti begitu saja. Satu persatu mereka mati. Diawali oleh Kaka, Pak Irawan dan Tania... Kinar berhasil memecahkan teka-teki kalau kematian itu berurutan dari huruf awal nama membentuk suatu kalimat: KITA MATI... Kaka, Irawan, Tania...berikutnya Ago atau bisa jadi Aldi...itu membentuk kata KITA... MATI dari huruf awal nama empat orang lainnya, Mey dan Aldi, lantas huruf T dan I? Padahal yang tersisa tinggal Kinar dan Satyo. Ternyata Kinar punya panggilan nama Inar, sedangkan Satyo biasa dipanggil Tyo... Berarti KITA MATI: Kaka, Irawan, Tania, Aldi, Mey, Ago, Tyo, Inar... Huruf awalan A yang mati berikutnya adalah Aldi. Bukan Ago.
Mereka yang tersisa percaya akan rancangan kematian itu. Mereka berempat: Mey, Ago, Satyo dan Kinar malah menantang kematian dan berencana menggagalkan rancangan kematian... Mereka malah menuju tempat, seperti tujuan mereka saat kecelakaan bis waktu itu yakni sebuah penginapan di puncak. Karena bila mereka ditakdirkan mati, maka mereka tidak akan pernah benar-benar sampai ke tujuan. Mobil yang dikendarai Ago kecelakaan di tengah jalan, mereka terpaksa menginap di sebuah rumah tua...dan teror dimulai... Dapatkah mereka berempat selamat? Lalu bagaimana dengan tokoh misterius Imas (Intan Ayu Purnama)? Apa hubungannya dengan rancangan kematian KITA MATI?.
Review by Harris :
Kabarnya 'Miracle', karya ke empat Helfi Kardit setelah 'Seventeen' (2005), 'Bangku Kosong' (2006) dan 'Lantai 13' (2007), mengambil inspirasi dari film Hollywood yang berjudul 'Final Destination' (1999). Berkisah tentang seseorang yang tiba-tiba bisa melihat ke masa depan dan keluar dari kematian yang akan menjeput. Sayangnya, kematian itu sendiri pada akhirnya akan tiba juga, hanya saja dengan dua kali lebih kejam.
Rasanya dengan premis seperti itu mau tidak mau Kardit harus mengakui jika ia mengambil ide dari film besutan James Wong tersebut, jika tidak mau disebut plagiat atau copy cat. Sayangnya, ia tidak menyebutkan jika filmnya ini pun menyadur ide dari film Thailand yang berjudul 'Letters of Death' (2006)!
Ya, selain berjalan cerita mirip sekali dengan 'Final Destination' ia menambahkan twist dengan adanya pola yang memakai inisial nama korban yang kemudian membentuk suatu kata, yang bisa juga menjadi petunjuk. Belum lagi dengan adanya sosok psycho diujung cerita. Ini menujukkan betapa keringnya ide Kardit dalam membuat film dengan idenya sendiri.
Skrip yang ditanganinya bersama Anggoro bermaksud untuk menjadi trailer yang menegangkan, dimana pada awalnya film memang terasa cukup menegangkan dan rasanya progresi cerita akan menarik untuk diikuti. Namun, menjelang pertengahan unsur tegang tadi hilang entah kemana dan cerita menjadi terasa absurd dan mengada-ngada serta sangat menghina intelejensia para penontonnya dengan banyaknya lubang di dalam cerita, dan hingga diakhiri dengan klimaks yang anti-klimaks jika tidak mau dikatakan konyol.
Berbicara konyol, entah apa yang ada di benak Kardit saat ia melakukan kasting untuk pemain-pemain utamanya. Semuanya bermain dengan sangat mentah dan annoying, sehingga kita berharap jika mereka mati saja semuanya. Karakter-karakternya pun sama sekali tidak menarik apalagi membuat penonton dapat merelasikan dengan ketakutan mereka.
Namun kelemahan terbesar, selain skrip dan kasting, adalah eksekusi dari Kardit itu sendiri. Dengan menggunakan teknik kamera hand held dia berusaha untuk menangkap ketegangan dengan secara lebih realistis. Namun, rasanya ia masih belum bisa membangun ketegangan yang diperlukan untuk teknik seperti itu dan malah membuat film terasa amatiran. Dan penggunaan hand held bukan alasan utama dari lemahnya eksekusi Kardit, melainkan penggarapan secara jeneral, film memang terasa kurang matang.
Ok, mungkin ia bisa memakai alasan bujet yang rendah untuk menafikan kelemahan-kelemahan dalam film ini. Akan tetapi, jika ia memang berbakat, dengan bujet seperti bagaimanapun ia seharusnya bisa membuat film yang jenial!
Hasil akhirnya, menonton 'Miracle' seperti menyaksikan salah satu episode dari sinetron-sinetron atau FTV di televisi. Rasanya film ini memang lebih pantas dirilis televisi atau setidaknya direct-to-video, karena terus terang saja, terasa mubazir saat menyaksikanya di layar bioskop.
By the way, kredit lebih harus ditujukan untuk Michael Tju yang mendisain posternya, karena terus terang alasan utama saya untuk menyaksikan film ini adalah posternya yang rasanya cukup komunikatif dan "menjual". But, like peoples said, don't judge book by its cover. Hm, I should listen. :((
Review by Gilabanget :
film miracle gak bagus banget tolong ya yang kreatif dikit kek jangan suka nyontek sekolah aja nyontek di hukum masa ini gak semua nya mirip sekali dengan FD jangan begitu dong gak malu apa kalau karya kita dicontek marah gak marah kan!!!!!!!!! terus banyak yang gak masuk akal........ assalamualaikum
Overview :
Tayang : 13 Desember 2007
Genre : Thriller
Pemain : Keira Sabhira, Andry Ilham, Intan Ayu Purnama, Lian Firman, Dhitra Marfie, Nadilla Ernesta, Wisnu Wijaya, Robertino, Inong, Ivy Batuta
Sutradara : Helfi CH Kardit
Penulis Naskah : Anggoro Sasongko, Helfi Kardit
Produser : Chand Parwez Servia
Rumah Produksi : Starvision
Posted by |toekang.blog| 0 comments
Selasa, 16 Oktober 2007
200 Pounds Beauty - Minyeo-neun goerowo (2006)
Aditya's Review :
Korean Romantic Comedy scores again. Hands down 200PB adalah film korea paling lucu yang gua pernah tonton dan gua lumayan sering nonton film korea.
Film ini bercerita tentang seorang cewek gemuk bernama Hanna yang jadi lip-singer untuk seorang penyanyi terkenal yang cantik bernama Ammy. Kesal karena dikerjain Ammy dan percaya bahwa kecantikan adalah segalanya, Hanna menghilang 1 tahun untuk operasi plastik, total make over sampe ngutang sama plastic surgeonnya. Ini ngebuat semua rencana produser untuk album Ammy jadi tertunda. Kemudian Hanna muncul setelah make over berganti nama jadi Jenny. Produser segara mengorbitkannya dan dari sana semua masalah mulai muncul.
Endingnya juga realistik dan mengharukan.
Comic timingnya pas, acting dari leading actressnya, Ah-jung Kimluwes dan apik dalam artian, tau cara bikin orang ketawa. waktu dia ngintip poduser. Waktu dia pertama kali beli mobil. Waktu dia ngebela salah satu fansnya yang pervert. Sumpah kocak banget muka Ah-Jung Kim ini. Gak heran kalo film ini dapet best actress dalam forum Grand Bell award 2007. Ini juga karena skripnya lucu setengah mati. Katanya di Korea sendiri film ini ngalahin kesuksesan 'My Sassy Girl' dan gua gak heran sih. Selucu-lucunya My Sassy Girl, di beberapa bagian masih ada yang rada kagok penempatan ceritanya. Beda dengan film ini.
Banyak adegan dalam film ini yang skripnya lucu tapi bisa disastrous kalo sampe aktingnya gak pas. In this movie the actors pulled it off. Heart melting momentsnya juga gak kalah banyak dan pas berselingan dengan kapan harus masuknya komedi. Orang yang paling sinting dalam film ini adalah karakter utama perempuannya dan delivery man yang nge-fans sama dia.
Gua cuman bisa ngebayangin impact-nya film ini dalam kehidupan sosial korea. Dari banyak sumber gua mendapati bahwa mayoritas orang korea pro sama operasi plastik. Pro dengan kecantikan. Mungkin aside dari bagaimana baiknya film ini diramu oleh director/writer Yong-hwa Kim, hal lain yang menjadikan film ini sukses adalah wacana akan 'artificial beauty'-nya.
Film ini highly recommended. Harus dibeli sebelum menghilang di pasaran.
Armand's Review:
gara-gara baca salah satu blog dari seorang penulis yang cukup terkenal di Indo. Dia bilang kalo film ini highly recommended. Bahkan menurut dia, film ini jauh lebih bagus dari My Sassy Girl - yang gua juga gak terlalu suka filmnya karena menurut gua biasa aja. Dia bilang kalo film 200 Pounds Beauty ini pas banget komedinya, mengharukannya, dramanya… semuanya bagus dan pas. Karena gua pikir dia kan udah berpengalaman dalam dunia perfilman, pasti dia banyak nonton film kan, jadi kalo sampe dia merekomendasikan suatu film pasti film itu bagus banget dong… Jadi gua penasaran sekali ama film ini, dan karena itu lah, gua sampe menurunkan harkat dan martabat gua (sorry ya buat para pecinta film Korea, hehe) untuk membeli film ini. Kan gengsi lho… masa gua beli film Korea sih… :P
Jadi ceritanya nih tentang satu cewek yang gendut banget, namanya Hana. Tapi dia pinter nyanyi. Nah kerjaan dia itu jadi penyanyi di belakang layar untuk artis terkenal yang namanya Amy. Si Amy ini cakep tapi gak bisa nyanyi, jadi dia lip sing doang. Mereka ini di-managed ama satu cowok. Sori ya gua gak inget nama-nama yang berbahasa Korea, asli gak bisa inget. Nah si Hana naksir cowok itu. Apalagi si cowok ini kayak ngasih-ngasih harapan ke dia gitu. Tapi suatu ketika, dia denger cowok itu ngomong ke Amy, kalo dia itu cuma pura-pura ngasih harapan supaya si Hana itu tetep mau jadi penyanyinya mereka.
Wah sakit hati banget kan dia. Akhirnya dia mau bunuh diri. Tapi trus dia nyadar, dan akhirnya dia memutuskan untuk operasi plastik. Dan berhasil, dia jadi langsing banget dan jadi cakep. Trus dia balik ke cowok itu dan ngaku sebagai Jenny. Akhirnya dia bakal diorbitin. Dia pikir dengan jadi Jenny, cowok itu bakal suka ama dia. Dia bahkan rela untuk menolak mengakui bapaknya sendiri demi tetep menjaga image baru dia.
Akhirnya dia gak punya temen (karena temennya jadi kesel ama dia), dia gak punya bapak (padahal ini keluarga satu-satunya), dan cowok itu tetep gak mau ama dia karena cowok itu akhirnya tau dia itu sebenernya siapa. Jadinya dia jadi sedih lagi… dan memutuskan untuk membongkar semua kedoknya pas dia lagi konser perdana.
Tapi ternyata para penggemar malah jadi simpati ama dia, dan dia tetep ngetop dengan identitasnya sendiri.
Ya udah gitu doang. Biasa aja menurut gua. Gak gitu lucu. Gak gitu mengharukan. Ide ending cerita model begitu (ngebongkar kedok sendiri di suatu acara besar) mah udah sering ada ya di film-film lain. Filmnya malah cenderung agak membosankan. Gua sempet ketiduran bentar di tengah. Abis lama banget filmnya, 2 jam lebih.
So ya menurut gua, film ini kurang recommended ya…
Posted by |toekang.blog| 0 comments
Jumat, 21 September 2007
Little Red Flowers - Kan shang qu hen mei (2006) - Review
Nonton film ini pasti kita akan selalu dibawa ke suatu pertanyaan dan sekaligus kekaguman: bagaimana sang Director (Zhang Yuan) men-direct para cast yang sebagian besar adalah anak-anak berumur 4-5 tahun dengan setting kehidupan sebuah Asrama Taman Kanak-Kanak di Beijing tahun 1949, pasca revolusi Beijing.
Pada awal cerita, nampak seorang anak umur 4 tahunan (Quiang) yang diseret ayahnya menyusuri lorong2 kota hingga tiba di salah satu Taman Kanak-Kanak. Sang ayah kemudian menitipkan Quiang di TK dengan asrama itu tanpa peduli pada tangisan si bocah yang ingin memberontak.
Ceritapun dimulai bagaimana Quiang kecil mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan rutinitas dan peraturan-peraturan asrama yang sangat ketat, dimana anak-anak yang dapat menjalankan rutinitas dengan baik seperti melepas dan memakai pakaian sendiri, mentaati perintah guru hingga ‘pup’ di pagi hari, akan mendapatkan sebuah kembang kertas berwarna merah pada score-board mereka.
Di film ini kita akan disuguhi kelucuan2 dari keluguan anak-anak kecil dan juga adegan2 menyentuh ketika Quiang kecil berusaha keras dan berkali-kali gagal untuk mendapatkan reward berupa kembang kertas mungil berwarna merah pada score board-nya.
Quiang kecil kemudian bertumbuh menjadi seorang anak pemberontak yang tidak mau berkompromi dengan aturan-aturan dimana justru keteraturan dan ketaatan manjadi suatu harga yang dijunjung tinggi. Dijauhi oleh teman-teman kecilnya hingga hukuman isolasi di ruang sempit dan gelap yang membuatnya menangis berjam-jam ternyata tidak mematahkan semangat Quiang kecil untuk menunjukkan jati dirinya.
Quiang bahkan sanggup menggerakan seisi sekolah untuk ‘memberontak’ dan menangkap kepala guru Ms. Li dengan menyebarkan isu bahwa Ms. Li telah berubah menjadi monster
Sejak kemunculannya di awal film Sang actor cilik Dong Bowen pemeran Quiang sebagai pusat cerita sangat mencuri perhatian lewat penampilannya yang sangat ekspresif dan memukau. Entah bagaimana sang sutradara membuat anak ini bisa tertawa, menangis dan menunjukkan berbagai mimik2 wajah lucu, marah dan takut secara natural.
Yang unik dari film ini adalah ketika kita hanya dituntut untuk mengikuti dan mencermati alur ceritanya saja tanpa mengharapkan ending layaknya sebuah film pada umumnya.. nah lho!
Coba deh nonton.. selain cukup menghibur, mungkin ada juga pelajaran2 moral yang bisa kita ambil selain mungkin ada beberapa kejanggalan yang akan kita rasakan yang disebabkan perbedaan kultur.
Director: Yuan Zhang
Writers: Shuo Wang (novel) and Dai Ning
Release Date: 21 July 2006 (Sweden)
Genre: Comedy / Drama more
Cast :
Dong Bowen ... Fang Qiangqiang
Ning Yuanyuan ... Yang Nanyan
Chen Manyuan ... Yang Beiyan
Zhao Rui ... Ms. Li
Li Xiaofeng ... Ms. Tang