Join Us on Facebook

Minggu, 28 Oktober 2007

`Lust, Caution` Garapan Ang Lee Borong Nominasi Golden Horse

Taipei (ANTARA News) - Film "Lust, Caution" garapan sutradara Taiwan yang berdiam di AS, Ang Lee, meraih 11 unggulan, Sabtu, untuk meraih Golden Horse Award, kompetisi film terbesar di dunia untuk film-film berbahasa China.

Sementara "Lust, Caution" telah dinominasikan untuk separuh dari 22 penghargaan Golden Horse, film ini tampaknya siap menjadi pemenang terbesar bila penghargaan tersebut diumumkan di Taipei pada 8 Desember.

Prestasi ini akan menjadi hiburan bagi Lee, menyusul penolakan Acedemy Award of Motion Pictures Arts and Sciences AS untuk mengakui "Lust, Caution" sebagai film Taiwan dalam ajang Piala Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Academy memberi alasan film ini hanya diperkuat sedikit bintang film Taiwan.

Film-film China akan melakukan kehadiran yang kuat dalam festival film Golden Horse ke-44 ini, dengan para bintang film dan sutradara seperti Yu Nan, Joan Chen dan Jiang Wen serta aktor drama televisi Zhao Benshan memperoleh berbagai nominasi.

Wang Angquan dengan filmnya "Tuya`s Marriage" dan Li Yang lewat "Blind Mountain" akan bersaing keras dengan Ang Lee untuk penghargaan Sutradara Terbaik.

Aktor dan aktris terbaik

Untuk Aktris Terbaik, Tang Wei dari China dengan "Lust, Caution" menghadapi tantangan keras dari rekan senegaranya, Yu Nan ("Tuya`s Marriage"), Joan Chen ("The Home Song Stories") dan Li Bingbing ("Yun Shui Yao").

"Lust, Caution", yang diangkat dari novel karya Ailing Chang, berkisah tentang seorang wanita yang jatuh cinta dengan seorang mata-mata semasa berkecamuknya Perang China-Jepang pada dasawarsa 1940-an.

"Tuya`s Marriage" merupakan kisah sedih Tuya, seorang wanita penggembala miskin di Mongolia Dalam, yang dipaksa bercerai dengan suaminya yang lumpuh guna menikah dengan seorang pria kaya, agar suami barunya dapat memberi makan pada Tuya dan suami Tuya yang sakit-sakitan.

"Yun Shui Yao", yang dipandang sebagai film andalan China untuk meraih Piala Oscar bagi kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang tetap saling mencintai sekalipun harus terpisah yang dibatasi selat akibat perseteruan antara Taiwan dan China.

"The Home Song Stories" adalah produksi Australia-Singapura tentang seorang panyanyi kabaret Shanghai (diperankan oleh Joan Chen) yang menikah dengan seorang pelaut dan pindah ke Australia, namun jatuh cinta dengan seorang imigran gelap China.

Gelar Aktor Terbaik akan diperbutkan dua bintang Hongkong, Tony Leung Lewat aktingnya dalam "Lust, Caution", Aaron Kwok melalui film "The Detective", dan Zhao Benshan dari China melalui permainannya dalam film "Getting Home" dan aktor Singapura, Gurmit Sing, dengan penampilannya dalam "Just Follow Law".

Taiwan, China dan Hongkong juga menggelar festival film internasional dan domestik, namun penghargaan Golden Horse terbuka untuk film-film berbahasa China dari semua negara, demikian laporan DPA. (*)


Silahkan Beri Komentar Anda Mengenai Berita/Artikel Ini.

Jumat, 26 Oktober 2007

Why Did I Get Married? (2007)

Review by brianorndorf:
“Why Did I Get Married?” is Tyler Perry’s best screen effort to date, which is to say it’s comfortably mediocre instead of criminally intolerable.

Four couples, Terry (Tyler Perry) and Diane (Sherry Leal), Patricia (Janet Jackson) and Gavin (Malik Yoba), Marcus (Michael Jai White) and Angela (Tasha Smith), and Mike (Richard T. Jones) and Shelia (Jill Scott), gather together every year for a vacation to clear their heads. Now in the snowy Colorado Mountains, the couples find this year to be their most explosive, with everyone’s dirty laundry aired out over the course of the hellish week, ending friendships and marriages. With their lives now scattered, the couples do their best to revive their love, only to find they might be better off apart.

Last February’s “Daddy’s Little Girls” brought mogul/filmmaker Tyler Perry to his lowest point. Not only was the feature a cancerous, socially irresponsible catastrophe, it was greeted with his lowest box office grosses yet. Perhaps the diminished reception of “Girls” played a subconscious role in the creation of “Married,” because this new film shows incredible growth on Perry’s part as a storyteller and director.

Perry loves to play with stereotypes and melodrama. They are his preferred tools to fashion his string of plays, cinematic efforts, and recent television forays (the excretal “House of Payne”). “Married” is another slice of obvious to fit snugly in Perry’s oeuvre, playing broadly to his core audience with an expected buffet of obnoxious characters and “Guiding Light” plotting. However, there’s a spark to “Married” that’s never revealed itself in the filmmaker’s work before. Dare I call it maturation?

For the first time, Perry is writing intimate drama, and when the attention stays put between the characters as they engage in marital combat, the results are engaging. Perry is actually allowing his writing some authentic humanity for once, especially in the Shelia character – an overweight, humiliated woman fighting to retain her self-respect in the gale force wind of her husband’s obscene wickedness. Perhaps this is Perry working with strong actors for a change or the tighter focus given to the story, but I was stunned to witness the filmmaker treat select moments with sincerity and respect, instead of his traditional route, which is to take a water spray bottle and scold empathy from entering the room.

Now, all is not well with “Married.” While I’m thrilled to see Perry slowly inch away from overbearing religious overtones (God only gets a few shoutouts here), using said overtones to justify spousal ultraviolence, and a general spread of easy answers, he does allow his attempts at comedy to stop the film cold. Dishing out borderline offensive depictions of homosexuals (dressed in lavender, lispy, and carrying a miniature dog) and Caucasians (depicted as fearful of African-Americans and all white-privilege complainy), Perry throws a wet blanket on his work by permitting such inanity. Characters such as Mike (a one-note jerk) and Marcus (a one-note moron) also demonstrate that Perry can’t trust his heart and write thoroughly demanding portraits of spousal misdeeds. All too often, he’ll cut right to cartoon for the easy way out.

“Why Did I Get Married?” has so much to say about interpersonal communication, trust, and fidelity, and certainly Tyler Perry is sneaking closer to making a film about adults with a sophistication his previous product was violently lacking. It’s still thwarted by Perry’s comfort zones, but it is an improvement.


Trailer :

Overview :
Director: Tyler Perry
Writer: Tyler Perry (play)
Release Date: 12 October 2007 (USA)
Genre: Comedy / Drama
Cast :

  • Tyler Perry ... Terry
  • Sharon Leal ... Diane
  • Janet Jackson ... Patricia
  • Malik Yoba ... Gavin
  • Jill Scott ... Sheila
  • Richard T. Jones ... Mike
  • Tasha Smith ... Angela
  • Michael Jai White ... Marcus
  • Denise Boutte ... Trina
  • Lamman Rucker ... Troy
  • Keesha Sharp ... Pam

30 Days of Night (2007)

30 Days of Night pictureSinopsis (Synopsis):
Kisah tentang sebuah kota kecil yang terisolasi di Alaska dimana setahun sekali kota ini terjebak dalam kegelapan selama 30 hari karena matahari menghilang di bawah garis horison.

Sherrif Eben Oleson (Josh Hartnett) ditugaskan untuk menangani seorang asing misterius yang tiba2 muncul dan membuat kerusuhan di dalam kota. Orang asing ini sering berkata-kata dengan bahasa yang tidak jelas mengenai invasi besar-besaran oleh sekelompok iblis yang sangat menakutkan.

Singkat cerita, seluruh kota kemudian menjadi gelap. Semua peralatan elektrik dan alat komunikasi tidak berfungsi. Makhluk-makhluk asing bermunculan dan terjadi pembunuhan dimana-mana. Eben dan beberapa orang yang selamat harus berjuang untuk mepertahankan diri sambil mengharapkan munculnya sinar matahari untuk mebebaskan mereka dari teror.

30 Days of Night picture 30 Days of Night picture
30 Days of Night picture 30 Days of Night picture

Review Film


Director: David Slade
Writers : Steve Niles (screenplay) & Stuart Beattie (screenplay)
Release Date: 19 October 2007 (USA)
Genre: Horror / Thriller
Cast :

  • Josh Hartnett ... Eben Oleson
  • Melissa George ... Stella Oleson
  • Danny Huston ... Marlow
  • Ben Foster ... The Stranger
  • Mark Boone Junior ... Beau Brower
  • Mark Rendall ... Jake Oleson
  • Amber Sainsbury ... Denise
  • Manu Bennett ... Billy Kitka
  • Megan Franich ... Iris
  • Joel Tobeck ... Doug Hertz
  • Elizabeth Hawthorne ... Lucy Ikos
  • Nathaniel Lees ... Carter Davies
  • Craig Hall ... Wilson Bulosan

Selasa, 16 Oktober 2007

Flushed Away (2006)


Alfa's Review:
Film animasi tentang tikus rumah yang nyasar ke gorong-gorong ini kerjaannya studio animasi besar Dreamworks, yang sebenarnya kebanting oleh film dreamworks yang diputar terlebih dahulu, Happy Feet. Entah apa yang ada dipikiran para mastemind Dreamworks sampai tega-teganya merilis film ini bersandingan dengan masterpiecenya, Happy Feet yang mampu bersaing ketat dengan film pixar 2006: Cars, diajang penghargaan seperti Golden Globe dan Academy Awards. Ya jelas saja film ini terlihat ‘Flushed Away’

Saya membanding-bandingkan terus? ya memang. Karena Happy feet dan Flushed away sama2 film animasi Dreamworks. Nggak ada salahnya membandingkan mereka.

Terus terang agak ngantuk waktu nonton film ini. Jangan harap ada cerita yang menarik dan membuai seperti Happy Feet.

Flushed away sangat gampang ditebak dan agak membosankan. Untungnya ada karakter-karakter yang mirip keong tanpa cangkang atau lintah yang pintar bernyanyi…. Kate Winslet dan Hugh Jackman sebagai dubber tidak banyak berpengaruh. Filmnya tetap kurang menarik dan alurnya terlalu cepat. Tapi lumayan sih untuk iseng-iseng, karena makhluk-makhluk got yang terlihat lembek dan bisa bernyanyi itu lucu juga.

I’d grant to Flushed Away

Directors:David Bowers & Sam Fell
Writers: Sam Fell (story) & Peter Lord (story) ...
Release Date: 3 November 2006 (USA)
Genre: Animation / Adventure / Comedy / Family more
Awards: Nominated for BAFTA Film Award. Another 6 wins & 8 nominations
Cast :

  • Hugh Jackman ... Roddy (voice)
  • Kate Winslet ... Rita (voice)
  • Ian McKellen ... The Toad (voice)
  • Jean Reno ... Le Frog (voice)
  • Bill Nighy ... Whitey (voice)
  • Andy Serkis ... Spike (voice)
  • Shane Richie ... Sid (voice)
  • Kathy Burke ... Rita's Mum (voice)
  • David Suchet ... Rita's Dad (voice)
  • Miriam Margolyes ... Rita's Grandma (voice)
  • Rachel Rawlinson ... Tabitha (voice)
  • Susan Duerden ... Mother (voice)
  • Miles Richardson ... Father (voice)
  • John Motson ... Football Commentator (voice)
  • Douglas Weston ... Newspaper Seller (voice)

200 Pounds Beauty - Minyeo-neun goerowo (2006)

Aditya's Review :
Korean Romantic Comedy scores again. Hands down 200PB adalah film korea paling lucu yang gua pernah tonton dan gua lumayan sering nonton film korea.

Film ini bercerita tentang seorang cewek gemuk bernama Hanna yang jadi lip-singer untuk seorang penyanyi terkenal yang cantik bernama Ammy. Kesal karena dikerjain Ammy dan percaya bahwa kecantikan adalah segalanya, Hanna menghilang 1 tahun untuk operasi plastik, total make over sampe ngutang sama plastic surgeonnya. Ini ngebuat semua rencana produser untuk album Ammy jadi tertunda. Kemudian Hanna muncul setelah make over berganti nama jadi Jenny. Produser segara mengorbitkannya dan dari sana semua masalah mulai muncul.

Endingnya juga realistik dan mengharukan.

Comic timingnya pas, acting dari leading actressnya, Ah-jung Kimluwes dan apik dalam artian, tau cara bikin orang ketawa. waktu dia ngintip poduser. Waktu dia pertama kali beli mobil. Waktu dia ngebela salah satu fansnya yang pervert. Sumpah kocak banget muka Ah-Jung Kim ini. Gak heran kalo film ini dapet best actress dalam forum Grand Bell award 2007. Ini juga karena skripnya lucu setengah mati. Katanya di Korea sendiri film ini ngalahin kesuksesan 'My Sassy Girl' dan gua gak heran sih. Selucu-lucunya My Sassy Girl, di beberapa bagian masih ada yang rada kagok penempatan ceritanya. Beda dengan film ini.

Banyak adegan dalam film ini yang skripnya lucu tapi bisa disastrous kalo sampe aktingnya gak pas. In this movie the actors pulled it off. Heart melting momentsnya juga gak kalah banyak dan pas berselingan dengan kapan harus masuknya komedi. Orang yang paling sinting dalam film ini adalah karakter utama perempuannya dan delivery man yang nge-fans sama dia.

Gua cuman bisa ngebayangin impact-nya film ini dalam kehidupan sosial korea. Dari banyak sumber gua mendapati bahwa mayoritas orang korea pro sama operasi plastik. Pro dengan kecantikan. Mungkin aside dari bagaimana baiknya film ini diramu oleh director/writer Yong-hwa Kim, hal lain yang menjadikan film ini sukses adalah wacana akan 'artificial beauty'-nya.

Film ini highly recommended. Harus dibeli sebelum menghilang di pasaran.

Armand's Review:
gara-gara baca salah satu blog dari seorang penulis yang cukup terkenal di Indo. Dia bilang kalo film ini highly recommended. Bahkan menurut dia, film ini jauh lebih bagus dari My Sassy Girl - yang gua juga gak terlalu suka filmnya karena menurut gua biasa aja. Dia bilang kalo film 200 Pounds Beauty ini pas banget komedinya, mengharukannya, dramanya… semuanya bagus dan pas. Karena gua pikir dia kan udah berpengalaman dalam dunia perfilman, pasti dia banyak nonton film kan, jadi kalo sampe dia merekomendasikan suatu film pasti film itu bagus banget dong… Jadi gua penasaran sekali ama film ini, dan karena itu lah, gua sampe menurunkan harkat dan martabat gua (sorry ya buat para pecinta film Korea, hehe) untuk membeli film ini. Kan gengsi lho… masa gua beli film Korea sih… :P

Jadi ceritanya nih tentang satu cewek yang gendut banget, namanya Hana. Tapi dia pinter nyanyi. Nah kerjaan dia itu jadi penyanyi di belakang layar untuk artis terkenal yang namanya Amy. Si Amy ini cakep tapi gak bisa nyanyi, jadi dia lip sing doang. Mereka ini di-managed ama satu cowok. Sori ya gua gak inget nama-nama yang berbahasa Korea, asli gak bisa inget. Nah si Hana naksir cowok itu. Apalagi si cowok ini kayak ngasih-ngasih harapan ke dia gitu. Tapi suatu ketika, dia denger cowok itu ngomong ke Amy, kalo dia itu cuma pura-pura ngasih harapan supaya si Hana itu tetep mau jadi penyanyinya mereka.

Wah sakit hati banget kan dia. Akhirnya dia mau bunuh diri. Tapi trus dia nyadar, dan akhirnya dia memutuskan untuk operasi plastik. Dan berhasil, dia jadi langsing banget dan jadi cakep. Trus dia balik ke cowok itu dan ngaku sebagai Jenny. Akhirnya dia bakal diorbitin. Dia pikir dengan jadi Jenny, cowok itu bakal suka ama dia. Dia bahkan rela untuk menolak mengakui bapaknya sendiri demi tetep menjaga image baru dia.

Akhirnya dia gak punya temen (karena temennya jadi kesel ama dia), dia gak punya bapak (padahal ini keluarga satu-satunya), dan cowok itu tetep gak mau ama dia karena cowok itu akhirnya tau dia itu sebenernya siapa. Jadinya dia jadi sedih lagi… dan memutuskan untuk membongkar semua kedoknya pas dia lagi konser perdana.

Tapi ternyata para penggemar malah jadi simpati ama dia, dan dia tetep ngetop dengan identitasnya sendiri.

Ya udah gitu doang. Biasa aja menurut gua. Gak gitu lucu. Gak gitu mengharukan. Ide ending cerita model begitu (ngebongkar kedok sendiri di suatu acara besar) mah udah sering ada ya di film-film lain. Filmnya malah cenderung agak membosankan. Gua sempet ketiduran bentar di tengah. Abis lama banget filmnya, 2 jam lebih.

So ya menurut gua, film ini kurang recommended ya…

Saw 2 (2005)

Mas Tom's Review :
Sebetulnya kalau mau jujur, dengan beberapa alasan tertentu, aku nggak terlalu suka nonton film-film model begini di bioskop, selain karena durasi filmnya yang relatif pendek (cuma satu setengah jam), Saw 2 juga nggak bisa dikategorikan sebagai ‘film monumental’ yang wajib ditonton di bioskop seperti halnya trilogi Lord of The Rings, Star Wars, ataupun Gladiator misalnya…

Basically, cerita Saw 2 ini memang erat kaitannya dengan cerita film Saw yang merupakan prequel-nya. Makanya untuk temen-temen yang langsung nonton Saw 2 tanpa sebelumnya pernah nonton Saw pasti akan sedikit bingung, karena ada beberapa adegan dan alur cerita di film ini yang berkaitan erat dengan film pertama.

Jalan ceritanya sendiri cukup sederhana, 8 orang (4 pria dan 4 wanita) yang saling tidak mengenal terkurung di dalam sebuah rumah yang tidak diketahui lokasinya, mereka merupakan bagian dari ‘permainan’ hidup dan mati yang dirancang oleh Jigsaw, seorang pembunuh berantai yang juga psikopat jenius.

Salah satu tokoh wanita yang terkurung itu adalah Amanda, dia adalah satu-satunya orang yang berhasil lolos dari ‘permainan’ Jigsaw di cerita film pertama, tapi sialnya kembali terjebak untuk kedua kalinya dalam ‘permainan’ hidup dan mati ini.

Pada awal film, Jigsaw -yang aslinya ternyata adalah seorang kakek-kakek pengidap kanker- berhasil ditangkap di persembunyiannya oleh Detektif Matthews (diperankan oleh mantan personil NKOTB, Donnie Wahlberg). Dari situ juga baru diketahui kalau diantara 8 orang yang terperangkap dalam ‘permainan’ itu, salah satunya ternyata adalah putra Detektif Matthews.

Ketegangan pun dimulai, karena cepat atau lambat, satu-persatu dari 8 orang yang terperangkap itu pasti akan mati dengan mengerikan, baik oleh jebakan-jebakan maut yang dirancang oleh Jigsaw, atau mati karena menghirup gas beracun yang dialirkan ke seluruh rumah.

Sebagaimana ending dari film Saw, ending dari Saw 2 ini juga memberikan kejutan tersendiri, meski seperti dibilang rifie di komentar posting sebelumnya, untuk penonton yang mengikuti alur cerita dengan seksama sudah bisa menduga siapa dalang dibalik permainan ini, sekaligus membuka kemungkinan untuk dibuatnya Saw 3 sebagai sekuel berikutnya.

Singkatnya, film ini sebetulnya lumayan (terutama kalo suka film misteri / suspense… dan nggak takut dengan banyaknya adegan sadis, plus darah muncrat dimana-mana), tapi kalau menurutku sih masih lebih bagus dan menegangkan filmnya yang pertama, karena ending dari film Saw jauh lebih tidak terduga daripada Saw 2.

Pan's Labyrinth (2006)

Klik Untuk memperbesar

Review by Alfa :
Film ini seperti Alice in wonderland versi yang lebih suram….

Kata siapa “Pan’s Labyrinth” film anak-anak? Sepertinya film ini terlalu gelap dan sadis untuk jadi konsumsi anak-anak. Walaupun tidak bisa dibandingkan dengan “Saw”, tapi tampaknya nggak sehat untuk perkembangan mental anak.(Ngomong-ngomong, kata kakak kosanku yang mahasiswa sastra, Alice in Wonderland itu juga bukan cerita anak-anak, tapi cerita dewasa yang penuh simbolisme. Simbol nya apa aja? Wayandatau ya….)

Jadi ingat Film “Babel”. Ada adegan permainan tradisional anak-anak Mexico. Anak-anak kecil dengan cerianya mengejar-ngejar badan ayam mati setelah kepalanya putus dipelintir dengan tangan kosong (ini bikin saya shock…, beneran). Mungkin nggak ya film “Pan’s Labyrinth” ini bener-bener bisa ditonton anak-anak?

Setelah diliat-liat, cerita film ini nggak sepenuhnya fantasi, karena selain cerita Ophelia dan makhluk absurd yang disebut “Faun”, ada porsi yang menceritakan si “Capitano” yang sepertinya punya kelainan jiwa (gimana nggak mau curiga? dia bener-bener marah banget sama dirinya sendiri gara-gara kelamaan shaving dan nggak tepat waktu, tampak nggak peduli sama nyawa orang lain, hobi nyiksa orang, dan terlalu perfeksionis) dan cerita perlawanan pejuang gerilya melawan si “Capitano”. Cerita keseluruhannya bagus juga, tapi lebih bagus lagi efek visualnya.

Makhluk mencurigakan mirip kambing biru tidak berbulu dan berjalan dengan dua kaki yang strukturnya mirip kaki ayam (bengkok kebelakang), namanya “Faun” (ada di poster yang sebelah kanan) tapi entah kenapa bahasa inggrisnya jadi “Pan”. Sampai akhir film, aku nggak yakin dia itu baik atau jahat. Masalah sebenernya sih endingnya yang bikin jadi nggak jelas. Adegan di endingnya itu beneran atau mimpi orang sekarat? Wandatau ya….

Yang paling berkesan adalah buku sakti yang mengingatkan pada Tom Riddle’s diary di Harry Potter. Persamaannya, kedua buku itu bisa memunculkan tulisan dari halaman kosong. Bedanya, buku di “Pan’s Labyrinth” itu buku teks yang tidak interaktif, tidak seperti diary yang bisa membalas tulisan (inget kan? Tom Riddle’s diary bisa membalas tulisan Ginny dan Harry). Kenapa berkesan kalo mirip yang lain? Soalnya, pemunculan tulisannya bagus banget dan ada kejadian dimana buku itu tidak memunculkan tulisan, tapi gambar dengan warna mirip darah. Hohoho, gambar apakah itu? Cobalah tebak.

Film ini berkesan banget. Mungkin karena belum pernah ada film yang menggabungkan adegan berdarah-darah dengan fantasi anak-anak.

Director: Guillermo del Toro
Writer: Guillermo del Toro (screenplay)
Release Date: 11 October 2006 (Spain) more
Genre: Drama / Fantasy / Thriller more
Awards: Won 3 Oscars. Another 60 wins & 51 nominations more
Cast :

  • Ivana Baquero ... Ofelia
  • Sergi López ... Capitán Vidal
  • Maribel Verdú ... Mercedes
  • Doug Jones ... Pan / Pale Man
  • Ariadna Gil ... Carmen Vidal
  • Álex Angulo ... Dr. Ferreiro
  • Manolo Solo ... Garcés
  • César Vea ... Serrano
  • Roger Casamajor ... Pedro
  • Ivan Massagué ... El Tarta
  • Gonzalo Uriarte ... Francés
  • Eusebio Lázaro ... Padre - Father
  • Francisco Vidal ... Cura - Priest (as Paco Vidal)
  • Juanjo Cucalón ... Mayor
  • Lina Mira ... Mayor's Wife

Trailer :